Selasa, 05 Januari 2016

Problematika Insider dan Outsider dalam Studi Islam

PROBLEM INSIDER DAN OUTSIDER DALAM STUDI ISLAM
Tugas ini disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah
Pendekatan dalam Pengkajian Studi Islam
Dosen pengampu Dr. Sekar Ayu Ariani


Di Susun Oleh:
Ita Fitri Astuti
1520510071


KONSENTRASI STUDI AGAMA DAN RESOLUSI KONFLIK
PRODI AKIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015



Problematika Insider dan Outsider dalam Studi Islam

A.                Pendahuluan
Seiring berkembangnya zaman agama lantas tidak hanya berfungsi sebagai penegasan terhadap peryataan kredo atau doktrin semata namun agama juga harus mampu dipelajari secara akademik. Sebagaimana yang dijelaskan Amin Abdullah bahwa fenomena keberagamaan manusia tidak hanya dilihat dari sudut normativitas ajaran wahyu, meskipun fenomena ini sampai kapanpun  akan menjadi ciri khas daripada agama-agama yang ada. Tetapi juga harus mampu dilihat dari sudut historisitas pemahaman dan interpretasi orang-orang atau kelompok terhadap norma-norma ajaran agama yang dipeluknya serta model-model amalan dan praktek-praktek ajaran agama yang dilakukan. [1]Usaha mempelajari agama terutama Islam dalam keyataannya bukan hanya dilaksanakan oleh kalangan umat Islam, melainkan juga dilaksanakan oleh orang-orang di luar kalangan umat Islam. Studi keislaman dikalangan umat Islam sendiri tentunya sangat berbeda tujuan dan motivasinya dengan yang dilakukan oleh orang-orang diluar kalangan umat Islam. Di kalangan umat Islam, studi keislaman bertujuan untuk memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran Islam agar mereka dapat melaksanakannya dan mengamalkannya dengan benar. Sementara di luar kalangan umat Islam, studi keislaman bertujuan untuk mempelajari seluk beluk agama dan praktik-praktik keagamaan yang berlaku di kalangan umat Islam yang semata-mata sebagai ilmu pengetahuan (islamologi). Namun sebagai mana halnya dengan ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya, maka ilmu pengetahuan tentang seluk beluk agama dan praktik-praktik keagamaan Islam tersebut bisa dimanfaatkan atau digunakan untuk tujuan–tujuan tertentu baik bersifat positif maupun negatif.[2]
Namun demikian, nampaknya harus diakui ketika sebagian orang mengatakan bahwa apapun pendekatan dan aliran yang digunakan, apapun upaya yang dilakukan, seorang peneliti selalu menghadapi problem serius, diantaranya teramat sulit bagi peneliti untuk melakukan studi yang bersifat objektif mungkin, netral dan terhindar dari bias, apalagi ketika menyentuh ajaran-ajaran normatif agama yang dianutnya. Sebagian orang mengatakan bahwa hal ini terjadi karena adanya unsur transendental dalam agama yang menyebabkan lahirnya emosi keagamaan pada setiap pengikutnya yang menyebabkan lahirnya emosi keagamaan pada setiap pengikutnya yang tidak mudah untuk dilepaskan begitu saja. Dari sinilah kemudian muncul problem insider dan outsider dalam studi islam. Untuk lebih rincinya akan dibahas di pembahasan selanjutnya.[3]

B.                 Pembahasan
1.                  Pengertian Insider dan Outsider
Sebelum lebih jauh membahas problem insider dan outside maka akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian insider dan outsider. Insider adalah para pengkaji agama yang berasal dari agamanya sendiri (orang dalam). Sedangkan outsider adalah para pengkaji non Muslim yang mempelajari Islam dan menafsirkannya dalam berbagai analisis dan pembacaan dengan metodologi tertentu (orang luar). [4]
2.                  Kemunculan Problem Insider dan Outsider
Kemunculan problem insider dan outsider berdasarkan tulisan Kim Knott disebabkan karena dilatar belakangi oleh kajian tentang Sikh pada tahun 1980-an di India. Yang ditandai dengan adanya perdebatan seputar motivasi dan kontribusi para sarjana yang menulis agama Sikh. Pada tahun 1991 para sarjana Barat melakukan tinjauan ulang mengenai sikhism, McLeon, Darshan Singgh mengatakan“para penulis Barat berusaha untuk menafsirkan dan memahami Sikhism sebagai outsider. Yang paling penting, agama adalah sebuah area yang tidak mudah dipahami oleh outsider, orang asing atau partispan. Agama secara mendalam tidak dapat dipahami kecuali oleh partisipan dengan mematuhi beberapa syarat”.[5]
Sementara  menurut hemat saya problem insider dan outsider muncul pasca jatuhnya kejayaan Islam, lalu ilmu pengetahuan pindah ke Barat. Dari sini orang-orang Barat kemudian mulai mempelajari Islam yang pada akhirnya muncul kajian orientalisme. Pada saat itu studi Islam di Barat didorong oleh kebutuhan akan kekuasaan koloni untuk belajar dan memahami masyarakat yang mereka kuasai. Sehingga studi Islam di Barat juga perlu diuji. Seperti yang diketahui bahwa para orientalis generasi awal pada abad ke 19-20 lebih banyak menggunakan pendekatan filosofi dalam melakukan studi Islam. Mereka memahami dunia Islam berdasarkan gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang tersebar dalam teks-teks Islam klasik.
Muhammad Abdul Rauf sangat jelas menunjukkan keresahannya atas kerja para pengkaji Barat atas Islam yang menurutnya memojokkan Islam dan tanpa menghiraukan apa yang disuarakan oleh para Sarjana dan umat Muslim sendiri atas dirinya. Dengan kata lain, para Sarjana dan umat Muslim seakan tidak ada dan juga mungkin disengaja untuk ‘ditiadakan’. Islam hanya dilihat sebagaimana batu, kayu atau benda mati lainnya yang tidak mempunyai hasrat, keinginan, impian, dan pendapat untuk mendefinisikan dirinya.
Abdul Rauf menilai bahwa Barat telah mengkoloni Islam melalui pendidikan. Ini terlihat dari uraiannya pada awal pembahasannya melalu contoh kasus yang terjadi pada universitas Al-Azhar pada tanggal 7 Desember1961. Kalau reformasi tersebut terjadi, maka kemungkinan besar pengaruh keilmuan Islam tradisional semakin mengecil. Terlebih lagi dengan gelombang teknologi informasi yang meruntuhkan sekat-sekat kebudayaan dan bangsa, maka tidak heran jika nanti umat Islam akan berwajah dan berjiwa Barat sekaligus meninggalkan wajah dan jiwanya sendiri, yakni Islam. Untungnya, ketika itu umat muslim dan Presiden Mesir serta para syeikh Al-Azhar menolak sehingga reformasi pun tidak jadi dilakukan. Meski demikian, Barat berhasil mereformasi kurikulum sekolah-sekolah Islam lainnya, yakni dengan memasukkan kurikulum sekuler di dalamnya. Dengan ini, segala bentuk ketakutan pun terjadi, pendidikan Islam tradisional “otentik” perannya semakin kecil. Lembaga pendidikan Islam dipersempit perannya hanya sebagai lembaga Pendidikan agama, pasca Barat mendirikan sekolah-sekolah sekuler model Barat di Negara-negara Islam (bukan Negara Islam namun Negara yang rakyatnya mayoritas Islam). Di sinilah terjadi dikotomi-dikotomi antara keilmuan Islam dan non-Islam yang sebelumnya Islam hanya memandang semua ilmu bersifat ilahiyah. Pada akhirnya lahirlah sejumlah metode dan pendekatan yang beragamdari kedua pihak Barat dan Timur dalam mengkaji Islam. Pendekatan ilmiah dan histories cenderung diterapkan Barat, sementara Timur lebih ke sisi teologis. Barang kali ada motif yang saling berlawanan, dimana studi Islam Barat didorong oleh kekuasaan kolonial, sementara Islam didorong oleh sikap pertahanan diri pada sisi lain.[6]
Sebagaimana dijelaskan pula oleh salah satu pemikir Barat Karel A. Steenbrink[7]. mengenai orientalis. Ia mengakui adanya bias, prejudice, dan mispersepsi Barat yang anti Islam dalam melihat Islam. Streenbrink tidak berhenti dengan hanya mengkritik melainkan dengan semangat Religious Studies ia menunjukan variasi-variasi dan perkembangan di dalam orientalisme. Orientalisme berperan dalam menciptakan konflik agama dan sebaliknya hubungan antar agama juga memiliki andil cukup besar dalam membentuk wajah orientalisme, bahkan lebih jauh ia menunjukkan signifikasinya bagi kemungkinan kemajuan kajian keislaman (dirasah Islamiah). “Kalau ilmu agama Islam tidak mau ketinggalan dari ilmu-ilmu lain (ekonomi, sosiologi dan lainnya)maka ia wajib mencari hubungan atau dialog dengan ilmu agama di kalangan cendekiawaan dan sarjana Barat, khususnya dalam hubungannya dengan hasil-hasil yang telah mereka capai dalam bidang ilmu agama Islam” demikian Streenbrink. Maka dialog ilmiah adalah media yang ditawarkan Streenbrink untuk hubungan kerjasama antara Barat dengan Islam.[8]
Namun demikian, perlu disadari pula bahwa kehadiran para pemikir oksidentalisme yang didominasi oleh pemikir Islam juga tidak terlepas dari problematika insider dan outsider karena para pemikir Islam yang tergolong dalam oksidentalisme menduduki posisi outsider, dalam hal ini pemikir Islam berusaha mempelajari agama diluar keyakinannya atau lebih tepatnya ilmu Barat. Hal ini dapat terjadi karena adanya oksidentalisme tidak terlepas dari keberadaan orientalisme sehingga keberadaan oksidentalisme bisa dikatakan sebagai upaya perlawanan atau pembelaan terhadap orientalisme tersebut. 
3.                  Problematika Yang Terjadi dalam Insider dan Outsider
Sebagaimana yang telah disampaikan dalam pendahuluan bahwa seorang peneliti selalu menghadapi problem serius, diantaranya teramat sulit bagi peneliti untuk melakukan studi yang bersifat objektif mungkin, netral dan terhindar dari bias, apalagi ketika menyentuh ajaran-ajaran normatif agama yang dianutnya. Menurut Johan Meuleman problem yang terjadi dalam penelitian agama disebabkan oleh beberapa faktor;
Pertama, setiap pemikiran manusia terikat pada bahasa atau meminjam istilah Mohammad Arkoun, logocentrisme dengan segala peraturan dan batasannya. Namun, keterturutan logocentrisme ini amat menojol di kalangan Muslimin. Karena itu menganggap teks-teks yang bersifat immanent dari segi bahasa yakni berfungsi dalam batas suatu bahasa dan kondisi tertentu dianggap sebagai transendent Ilahi. Kedua, dari sebab pertama pada akhirnya mengakibatkan penelitian itu terpusat pada teks-teks dan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. Ketiga, interpretasi yang terbatas dan tertutup terhadap al-Quran dan al-Sunnah sebagai teks yang membicarakan fakta dan peraturan ( bukan makna dan nilai). Keempat, anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan dianggap sebagai agama itu sendiri sehingga mengabaikan yang lainnya karena naska tersebut dianggap asli. Kelima, sikap apologetis terhadap aliran lain (kalam, fikih, dan sebagainya), sikap ini menunjang pada ketertutupan pemikiran agama. Keenam, sistem pendidikan yang terlalu mementingkan bahwa terlampau besar terhadap tradisi terutama pada teks tradisional dan guru serta lebih mementingkan hafalan daripada sikap kritis dan ilmiah. [9]
Minimnya tradisi ilmiah dalam melakukan penelitian atau kajian tentang Islam lanjut Meuleman juga menonjol di kalangan orientalis Edward Said yang menjelaskan bahwa para orientalis teryata masih terjebak dalam gejala logosentrisme sebagai akibat dari tradisi filologi orientalisme, juga keterbatasan terhadap naskah-naskah klasik seakan itu mewakili realita pemikiran agama. Sarjana Barat dalam mengkaji Islam sangat dipengaruhi oleh pra-anggapan negartif bahwa Islam adalah agama yang suka kekerasan, anti modernisasi, sesat, dan dibawa oleh nabi palsu dan suka seksualitas. Oleh karena itu maka hasil akhir dari kajian Barat sering tidak objektif dan menyakiti hati umat Muslim.
Salah satu contoh yaitu debat antara Bernard Lewis (orang Barat yang dikenal sebagai orientalis) dan Edward W. Said (yang dipandang orang timur), Said mengganggap Lewis menjadi salah satu reprensetasi orientalis Barat yang memandang Islam (agama Timur) dengan asumsi-asumsi dasar dan kerangka berfikir yang digunakan orang Barat yang hingga batas-batas tertentu berbeda dengan pemikiran dan realitas yang ada di dunia Timur. Demikian pula yang dilakukan R.B Serjeant (orang Timur) terhadap Patricia Crone (orientalis), Serjeant mengatakan bahwa Crone telah meneliti Islam dan orang Islam tanpa membekali dirinya dengan pengetahuan memadahi tentang Islam. Pengetahuannya tentang Bahasa Arab, tegas Serjeant tidak cukup dalam memahami teks-teks Arab yang menggambarkan tentang Islam dan umat Islam. Akibatnya pandangan-pandangannya tentang Islam dan umat Islam sangat tidak mendasar dan tidak akurat (baseless and inaccurate). [10]

4.                  Posisi Insider dan Outsider
Berbicara mengenai posisi insider dan outsider maka yang timbul adalah pertayaan mengenai siapa yang otentik dalam meneliti studi Islam, dari hal penulis akan memaparkan beberapa prespektif diantaranya menurut Muhammad Abdul Rauf yang secara tegas menyatakan bahwa berdasarkan data sejarah, agak susah bahkan tidak mungkin bagi seseorang yang menganut agama tertentu kemudian mencoba mengkaji agama lain  atau outsider. Karena itu patut dipertanyakan keabsahan para sarjana Barat dalam mengkaji Islam secara objektif. Sebagaimana yang diungkapkan Wilred Cantwell Smith, ia mengakui bahwa interpretasi umat Islam lah yang dipandang otoritatif. Ia menyatakan “apapun yang yang saya katakana tentang Islam sebagai keyakinan yang hidup di tengah-tengah masyarakat adalah valid sejauh umat Islam sendiri setuju dan mengamininya terhadap pemahaman tersebut. Kajian para outsider tentang Islam harus dicek dan dikontrol oleh umat Islam untuk menghindari peyalahgunaan kegiatan akademik untuk melawan Islam.   
Lain halnya dengan Fazlur Rahman yang menganggap bahwa hasil penelitian dari sejumlah sarjanan Barat yang non Muslim menunjukan keakuratan penelitiannya. Sebaliknya penelitian yang dilakukan sejumlah sarjana muslim sendiri yang justru menanyakan hasil sebernarnya yang dilakukan oleh umat Islam sebelumnya. Rahman menegaskan bahwa studi Islam lebih cocok dilakukan kajian pada level pemahaman intelektual atau apresiasi. Karena hal ini dapat dilakukan oleh Muslim a dan non Muslim dengan maksud saling belajar.        [11]
   Sebagaimana Fazlur Rahman, Kim Knott menyatakan bahwa pengalaman keagamaan yang ada dalam diri insider ditampilkan kemudian direspon oleh outsider, dengan mempertimbangkan batas-batas objektivitas dan subjektivitas yang terpancar dalam pengalaman keagamaan, yang didasari oleh sikap empati dan analisis kritis. Pada titik ini insider dan outsider saling berbagi keseimbangan prespektif dalam sejarah studi agama.
Berbeda dengan Knott, Charles S. Pierce mengajukan kontruksi pemikiran sebagai basis studi Islam, pertama, belief yang berupa tatanan sosial yang dipegang secara absolute dan dipadu oleh tatanan kekuatan moral. Kedua, babit of mind, tradisi yang turun temurun dan telah mengkristal menjadi kebiasaan dalam berbagai aspek kehidupan. Ketiga, doubt mempertanyakan tentang apa yang selama ini dianggap menjadi mainstream pemikiran dan pengejawantahan. Dan untuk memperoleh keyakinannya seorang peneliti harus melakukan empat tahapan pertimbangan guna mengurai doubt menjadi potensi positif argumentatif yakni tenasitas, otoritas, apriori, dan investigasi. Keempat, inquiry (penelitian), namun ia menegaskan yang dicari adalah meaning (nilai) bukan truth (kebenaran) yang merupakan teori pemaknaan pragmatis namun operatif. Kelima, the logic of theory sebagai landasan aplikasi kajian. [12]
Pada dasarnya prespektif di atas harus mengetahui penggunaan istilah penelitian agama dan penelitian keagamaan. Menurut Middleton, penelitian agama berbeda dengan penelitian keagamaan, penelitian agama  adalah agama sebagai doktrin sementara penelitian keaagamaan adalah agama sebagai gejala sosial.[13] Dengan demikian, penelitian dalam studi agama memungkinkan dilakukan oleh muslim atau non muslim dengan kesepakatan saling belajar, syarat utama untuk pemahaman semacam ini adalah subjek yang meneliti tanpa permusuhan atau prasangka terhadap objek kajiannya melainkan harus terbuka, dan jika mungkin simpati. Selain itu juga harus jujur dengan mengakui kategori-kategori dapat terus berkembang. Sebagian orang ingin mengonstruksi realitas tapi tidak dapat mengakui ketidakcakapan itu. [14]

5.                  Solusi terhadap Problematika Insider dan Outsider

Dari berbagai prespektif di atas pada akhirnya muncul tawaran mengenai solusi terhadap problem insider/outsider dalam studi Islam ada beberapa tawaran solusi pertama dari  Russelt T. McCulcheon dalam karyanya The Insider/Outsider Problem in the Study of Religion; A Reader. Dalam karya ini disebutkan bahwa untuk menekan terjadinya bias karena insider/outsider maka kemudian lahir satu bidang ilmu yang dikenal dengan phenomenology,melalui ilmu ini seorang peneliti mencoba menggambarkan (to describe), menginterpretasikan (to interprete) dan menjelaskan (to ekplan) fenomena yang ada. ketiga hal tersebut akan berjalan dengan baik dengan syarat seorang peneliti harus mencoba untuk memasuki dan merasakan pengalaman-pengalaman dan makna-makna yang dimiliki pihak lain, mengakses momen-momen pribadi dari persepsi manusia yang dengan akhirnya dapat menjebatani jarak antara subjek dan objek. Hal ini didasarkan pada satu asumsi dasar bahwa semua manusia berbagi pengalaman-pengalaman yang sama dan karenanya seorang peneliti dapat menjebatani jarak anatara insider dan outsider dengan cara menjeneralisir pengalaman-pengalaman pribadinya dan kemudian diterapkan pada pengalama-pengalaman orang lain. Dalam bahasa Charles J. Adam, fenomenologi merupakan satu pendekatan selakigus metode untuk memahami agama orang lain yang membutuhkan upaya keras pada diri peneliti untuk sementara mengesampingkan atau menetralkan diri dari kecendrungan dan komitmen dirinya menuju usaha untuk merekontruksikan pengalaman keagamaan orang lain.[15]
Sementara itu Kim Knott menawarkan pendekatan rappochment dalam menuju objektivitas metodologis studi Islam. Pendekatan rappochment merupakan upaya solutif intersubjektif guna memosisikan penelitian pada margin of appreciation sebagai tapal batas (border line) antara insider dan outsider. Dalam pendekatan tersebut tidak ada dituntutan untuk meleburkan diri dalam dua pribadi yang berbeda, namun dari keduanya masih dimungkinkan untuk dicari titik temu meski kecil. Sebagaimana dalam bagan berikut ini:
Subjective
Objektive
Intersubjektive
The Word of faith
The Word of scholarship
The word of rapprochement
Belief
Impartialitas (clarification)
Dialogic of ideas
Fideist/theistic
Objektive rationality
Reflexity
Emic/ Insider
Etic / outsider
Circular
Tawaran yang Knott yang diadobsi dari Richard J. Bernstein  dengan menempatkan tiga unsur di atas dimaksudkan sebagai tautan reflektif sirkuler yang saling mengisi, dan bukan merupakan eksistensi yang berdiri sendiri, apalagi sebagai subordinat. Spirit yang diinginkan yaitu adanya titik temu bukan pembauran apalagi peleburan antar ajaran agama.[16]

C.                Penutup
Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat penulis simpulkan bahwa problem yang terjadi dalam insider atau outsider berawal dari sikap peneliti  yang belum dapat membuang jauh-jauh idenya yang berbeda dengan keyataan yang ada, sehingga objektifitas penelitian masih perlu diuji. Hal ini disebabkan oleh banyak hal salah satunya bahasa. Sementara posisi insider dan outsider dalam keontetikan  dapat diketahui apabila peneliti dapat mewujudkan sikap saling belajar, jujur, dan terbuka bahkan  simpati.  Problematika insider dan outsider dapat penelitian dapat diminimalisir dengan pendekatan fenomenologi yang ditawarkan Russelt T. McCulcheon dan Pendekatan rappochment  yang ditawarkan Kim Knott.
Dari semua itu perlu di sadari bahwa problem yang terjadi diantara insider dan outsider  telah memberi sumbangan berupa pendekatan-pendekatan studi Islam sehingga Islam dapat dipahami secara lebih komprehensif daripada masa-masa lampau, selain itu juga mendorong tokoh- tokoh muslim untuk lebih bersikap kritis, dan bahkan melahirkan pemikir muslim yang mampu memberikan sumbangsi keilmuananya di bidang studi Islam salah satu contoh M. Amin Abdullah yang terkenal dengan integrasi-intrerkoneksi nya dan lain sebagainya.





Daftar Isi
Abdullah, Amin. Editor Richard C. Martin.  Pendekatan Terhadap Islam dalam Studi Agama. Yogyakarta: Suka Press. 2010.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002.

Arfan muammar, M., Abdul Wahid Hasan, dkk. Studi Islam Prespektif Insider/Outsider Yogyakarta: IRCiSoD. 2012.

Ali, Sayuthi. Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan, Teori, dan Praktik. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2002.

Muhaimin, dkk. Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan. Jakarta:Kencana. 2012.

Minhaji,Akh.  Sejarah Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi. Yogyakarta: SUKA Press. 2013
Mengutip dari Mohammad Muslih tentang Religious Studies Problem Hubungan Islam dan Kristen (Kajian atas Pemikiran  Karel A. Steenbrink). Yogyakarta: Belukar Budaya. 2003.
Mudzhar.M. Athok.  Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek .Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011.
           

Husni, Munawir.  Persoalan Insider dan Outsider dalam Studi Islam Abdul Rauf  dalam http://multikultu.blogspot.co.id/2014/04/persoalan-insider-dan-outsider-dalam.html. Diakses tanggal 28 november 2015.

 





[1] Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. v.
[2] Muhaimin dkk, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan (Jakarta:Kencana,2012), hlm. 1.

[3] Akh. Minhaji, Sejarah Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi (Yogyakarta: SUKA Press, 2013), hlm. 112.

[4] M. Arfan muammar, Abdul Wahid Hasan dkk, Studi Islam Prespektif Insider/Outsider (Yogyakarta: IRCiSoD,2012), hlm.130

[5] M. Arfan muammar, Abdul Wahid Hasan dkk, Studi Islam Prespektif Insider/Outsider, hlm.108.

[6]Munawir Husni, Persoalan Insider dan Outsider dalam Studi Islam Abdul Rauf  dalam http://multikultu.blogspot.co.id/2014/04/persoalan-insider-dan-outsider-dalam.html. Diakses tanggal 28 november 2015.

[7] Karel A. Steenbrink,  seorang sarjana Perbandingan Agama berkebangsaan Belanda ia merupakan salah satu  pemikir Barat yang kritis terhadap tradisinya sendiri, ia juga banyak menulis tentang orientalisme.

[8] Mengutip dari Mohammad Muslih tentang Religious Studies Problem Hubungan Islam dan Kristen (Kajian atas Pemikiran  Karel A. Steenbrink),  (Yogyakarta: Belukar Budaya, 2003), hlm. 19-20.
[9] Sayuthi Ali, Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan, Teori, dan Praktik (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2002) hlm. 4.

[10] Akh. Minhaji, Sejarah Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi (Yogyakarta: SUKA Press, 2013), hlm. 120.

[11] Akh. Minhaji, Sejarah Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi, hlm. 122-123.
               
[12] M. Arfan muammar, Abdul Wahid Hasan dkk, Studi Islam Prespektif Insider/Outsider (Yogyakarta: IRCiSoD,2012), hlm.109-110.

[13]M. Athok Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011)hlm.35.

[14] Amin Abdullah, editor Richard C. Martin, Pendekatan Terhadap Islam dalam Studi Agama (Yogyakarta: Suka Press, 2010)hlm. 205.

[15] Akh. Minhaji, Sejarah Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi (Yogyakarta: SUKA Press, 2013), hlm. 124-125.

[16] M. Arfan muammar, Abdul Wahid Hasan dkk, Studi Islam Prespektif Insider/Outsider (Yogyakarta: IRCiSoD,2012), hlm.128-129.

0 komentar:

Posting Komentar