PROBLEM INSIDER DAN
OUTSIDER DALAM STUDI ISLAM
Tugas ini disusun
untuk melengkapi tugas mata kuliah
Pendekatan dalam Pengkajian Studi Islam
Dosen pengampu Dr.
Sekar Ayu Ariani
Di Susun Oleh:
Ita Fitri Astuti
1520510071
KONSENTRASI STUDI
AGAMA DAN RESOLUSI KONFLIK
PRODI AKIDAH
FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN
DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
Problematika
Insider dan Outsider dalam Studi Islam
A.
Pendahuluan
Seiring
berkembangnya zaman agama lantas tidak hanya berfungsi sebagai penegasan
terhadap peryataan kredo atau doktrin semata namun agama juga harus mampu
dipelajari secara akademik. Sebagaimana yang dijelaskan Amin Abdullah bahwa
fenomena keberagamaan manusia tidak hanya dilihat dari sudut normativitas
ajaran wahyu, meskipun fenomena ini sampai kapanpun akan menjadi ciri khas daripada agama-agama
yang ada. Tetapi juga harus mampu dilihat dari sudut historisitas
pemahaman dan interpretasi orang-orang atau kelompok terhadap norma-norma
ajaran agama yang dipeluknya serta model-model amalan dan praktek-praktek
ajaran agama yang dilakukan. [1]Usaha
mempelajari agama terutama Islam dalam keyataannya bukan hanya dilaksanakan
oleh kalangan umat Islam, melainkan juga dilaksanakan oleh orang-orang di luar kalangan
umat Islam. Studi keislaman dikalangan umat Islam sendiri tentunya sangat
berbeda tujuan dan motivasinya dengan yang dilakukan oleh orang-orang diluar
kalangan umat Islam. Di kalangan umat Islam, studi keislaman bertujuan untuk
memahami dan mendalami serta membahas ajaran-ajaran Islam agar mereka dapat
melaksanakannya dan mengamalkannya dengan benar. Sementara di luar kalangan
umat Islam, studi keislaman bertujuan untuk mempelajari seluk beluk agama dan
praktik-praktik keagamaan yang berlaku di kalangan umat Islam yang semata-mata
sebagai ilmu pengetahuan (islamologi). Namun sebagai mana halnya dengan
ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya, maka ilmu pengetahuan tentang seluk beluk
agama dan praktik-praktik keagamaan Islam tersebut bisa dimanfaatkan atau
digunakan untuk tujuan–tujuan tertentu baik bersifat positif maupun negatif.[2]
Namun
demikian, nampaknya harus diakui ketika sebagian orang mengatakan bahwa apapun
pendekatan dan aliran yang digunakan, apapun upaya yang dilakukan, seorang
peneliti selalu menghadapi problem serius, diantaranya teramat sulit bagi
peneliti untuk melakukan studi yang bersifat objektif mungkin, netral dan
terhindar dari bias, apalagi ketika menyentuh ajaran-ajaran normatif agama yang
dianutnya. Sebagian orang mengatakan bahwa hal ini terjadi karena adanya unsur transendental
dalam agama yang menyebabkan lahirnya emosi keagamaan pada setiap pengikutnya
yang menyebabkan lahirnya emosi keagamaan pada setiap pengikutnya yang tidak
mudah untuk dilepaskan begitu saja. Dari sinilah kemudian muncul problem
insider dan outsider dalam studi islam. Untuk lebih rincinya akan dibahas di
pembahasan selanjutnya.[3]
B.
Pembahasan
1.
Pengertian Insider dan Outsider
Sebelum lebih jauh membahas problem insider dan outside maka akan
dijelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian insider dan outsider. Insider adalah para pengkaji agama yang
berasal dari agamanya sendiri (orang dalam). Sedangkan outsider adalah para
pengkaji non Muslim yang
mempelajari Islam dan menafsirkannya dalam berbagai analisis dan pembacaan
dengan metodologi tertentu (orang luar). [4]
2.
Kemunculan Problem Insider dan Outsider
Kemunculan
problem insider dan outsider berdasarkan tulisan
Kim Knott disebabkan karena dilatar belakangi oleh kajian tentang Sikh pada
tahun 1980-an di India. Yang ditandai dengan adanya perdebatan seputar motivasi
dan kontribusi para sarjana yang menulis agama Sikh. Pada tahun 1991 para
sarjana Barat melakukan tinjauan ulang mengenai sikhism, McLeon, Darshan
Singgh mengatakan“para
penulis Barat berusaha untuk menafsirkan dan memahami Sikhism sebagai
outsider. Yang paling penting, agama adalah sebuah area yang tidak mudah
dipahami oleh outsider, orang asing atau partispan. Agama secara mendalam tidak
dapat dipahami kecuali oleh partisipan dengan mematuhi beberapa syarat”.[5]
Sementara menurut hemat saya problem insider dan
outsider muncul pasca jatuhnya kejayaan Islam, lalu ilmu pengetahuan pindah ke
Barat. Dari sini orang-orang Barat kemudian mulai mempelajari Islam yang pada
akhirnya muncul kajian orientalisme. Pada saat itu studi Islam di Barat
didorong oleh kebutuhan akan kekuasaan koloni untuk belajar dan memahami
masyarakat yang mereka kuasai. Sehingga studi Islam di Barat juga perlu diuji.
Seperti yang diketahui bahwa para orientalis generasi awal pada abad ke 19-20
lebih banyak menggunakan pendekatan filosofi dalam melakukan studi Islam.
Mereka memahami dunia Islam berdasarkan gagasan-gagasan dan konsep-konsep yang
tersebar dalam teks-teks Islam klasik.
Muhammad
Abdul Rauf sangat jelas menunjukkan keresahannya atas
kerja para pengkaji
Barat atas Islam yang menurutnya memojokkan Islam dan tanpa menghiraukan apa
yang disuarakan oleh para Sarjana dan umat Muslim sendiri atas dirinya. Dengan
kata lain, para Sarjana dan umat Muslim seakan tidak ada dan juga mungkin
disengaja untuk ‘ditiadakan’. Islam hanya dilihat sebagaimana batu, kayu atau
benda mati lainnya yang tidak mempunyai hasrat, keinginan, impian, dan pendapat
untuk mendefinisikan dirinya.
Abdul Rauf
menilai bahwa Barat telah mengkoloni Islam melalui pendidikan. Ini terlihat
dari uraiannya pada awal pembahasannya melalu contoh kasus yang terjadi pada
universitas Al-Azhar pada tanggal 7 Desember1961. Kalau reformasi tersebut
terjadi, maka kemungkinan besar pengaruh keilmuan Islam tradisional semakin
mengecil. Terlebih lagi dengan gelombang teknologi informasi yang
meruntuhkan sekat-sekat kebudayaan dan bangsa, maka tidak heran jika nanti umat
Islam akan berwajah dan berjiwa Barat sekaligus meninggalkan wajah dan jiwanya
sendiri, yakni Islam. Untungnya,
ketika itu umat muslim dan Presiden Mesir serta para syeikh Al-Azhar menolak
sehingga reformasi pun tidak jadi dilakukan. Meski demikian, Barat berhasil
mereformasi kurikulum sekolah-sekolah Islam lainnya, yakni dengan memasukkan
kurikulum sekuler di dalamnya. Dengan ini, segala bentuk ketakutan pun terjadi,
pendidikan Islam tradisional
“otentik” perannya semakin kecil. Lembaga pendidikan Islam dipersempit perannya hanya sebagai lembaga Pendidikan
agama, pasca Barat mendirikan sekolah-sekolah sekuler model
Barat di Negara-negara Islam (bukan Negara Islam namun Negara yang rakyatnya
mayoritas Islam). Di sinilah terjadi dikotomi-dikotomi antara keilmuan Islam
dan non-Islam yang sebelumnya Islam hanya memandang semua ilmu bersifat
ilahiyah. Pada akhirnya lahirlah sejumlah metode dan pendekatan yang beragamdari kedua pihak Barat dan Timur
dalam mengkaji Islam. Pendekatan ilmiah dan histories cenderung diterapkan
Barat, sementara Timur lebih ke sisi teologis. Barang kali ada motif yang saling berlawanan, dimana
studi Islam Barat didorong oleh kekuasaan kolonial, sementara Islam didorong
oleh sikap pertahanan diri pada sisi lain.[6]
Sebagaimana
dijelaskan pula oleh salah satu pemikir Barat Karel A. Steenbrink[7].
mengenai orientalis. Ia mengakui adanya bias, prejudice, dan mispersepsi
Barat yang anti Islam dalam melihat Islam. Streenbrink tidak berhenti dengan
hanya mengkritik melainkan dengan semangat Religious Studies ia
menunjukan variasi-variasi dan perkembangan di dalam orientalisme. Orientalisme
berperan dalam menciptakan konflik agama dan sebaliknya hubungan antar agama
juga memiliki andil cukup besar dalam membentuk wajah orientalisme, bahkan
lebih jauh ia menunjukkan signifikasinya bagi kemungkinan kemajuan kajian
keislaman (dirasah Islamiah). “Kalau ilmu agama Islam tidak mau ketinggalan
dari ilmu-ilmu lain (ekonomi, sosiologi dan lainnya)maka ia wajib mencari
hubungan atau dialog dengan ilmu agama di kalangan cendekiawaan dan sarjana
Barat, khususnya dalam hubungannya dengan hasil-hasil yang telah mereka capai
dalam bidang ilmu agama Islam” demikian Streenbrink. Maka dialog ilmiah
adalah media yang ditawarkan Streenbrink untuk hubungan kerjasama antara Barat
dengan Islam.[8]
Namun
demikian, perlu disadari pula bahwa kehadiran para pemikir oksidentalisme yang
didominasi oleh pemikir Islam juga tidak terlepas dari problematika insider dan
outsider karena para pemikir Islam yang tergolong dalam oksidentalisme menduduki
posisi outsider, dalam hal ini pemikir Islam berusaha mempelajari agama diluar
keyakinannya atau lebih tepatnya ilmu Barat. Hal ini dapat terjadi karena
adanya oksidentalisme tidak terlepas dari keberadaan orientalisme sehingga
keberadaan oksidentalisme bisa dikatakan sebagai upaya perlawanan atau
pembelaan terhadap orientalisme tersebut.
3.
Problematika Yang Terjadi dalam Insider dan Outsider
Sebagaimana
yang telah disampaikan dalam pendahuluan bahwa seorang peneliti selalu
menghadapi problem serius, diantaranya teramat sulit bagi peneliti untuk
melakukan studi yang bersifat objektif mungkin, netral dan terhindar dari bias,
apalagi ketika menyentuh ajaran-ajaran normatif agama yang dianutnya. Menurut
Johan Meuleman problem yang terjadi dalam penelitian agama disebabkan oleh
beberapa faktor;
Pertama, setiap pemikiran manusia terikat pada bahasa atau meminjam
istilah Mohammad Arkoun, logocentrisme dengan segala peraturan dan
batasannya. Namun, keterturutan logocentrisme ini amat menojol di
kalangan Muslimin. Karena itu menganggap teks-teks yang bersifat immanent dari
segi bahasa yakni berfungsi dalam batas suatu bahasa dan kondisi tertentu
dianggap sebagai transendent Ilahi. Kedua, dari sebab pertama pada
akhirnya mengakibatkan penelitian itu terpusat pada teks-teks dan mengabaikan
unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam. Ketiga,
interpretasi yang terbatas dan tertutup terhadap al-Quran dan al-Sunnah sebagai
teks yang membicarakan fakta dan peraturan ( bukan makna dan nilai). Keempat,
anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan dianggap sebagai agama itu
sendiri sehingga mengabaikan yang lainnya karena naska tersebut dianggap asli. Kelima,
sikap apologetis terhadap aliran lain (kalam, fikih, dan sebagainya), sikap ini
menunjang pada ketertutupan pemikiran agama. Keenam, sistem pendidikan
yang terlalu mementingkan bahwa terlampau besar terhadap tradisi terutama pada
teks tradisional dan guru serta lebih mementingkan hafalan daripada sikap
kritis dan ilmiah. [9]
Minimnya
tradisi ilmiah dalam melakukan penelitian atau kajian tentang Islam lanjut
Meuleman juga menonjol di kalangan orientalis Edward Said yang menjelaskan
bahwa para orientalis teryata masih terjebak dalam gejala logosentrisme
sebagai akibat dari tradisi filologi orientalisme, juga keterbatasan terhadap
naskah-naskah klasik seakan itu mewakili realita pemikiran agama. Sarjana
Barat dalam mengkaji Islam sangat dipengaruhi oleh pra-anggapan negartif bahwa Islam
adalah agama yang suka kekerasan, anti modernisasi, sesat, dan dibawa oleh nabi
palsu dan suka seksualitas. Oleh karena itu maka hasil akhir dari kajian Barat
sering tidak objektif dan menyakiti hati umat Muslim.
Salah
satu contoh yaitu debat antara Bernard Lewis (orang Barat yang dikenal sebagai
orientalis) dan Edward W. Said (yang dipandang orang timur), Said mengganggap
Lewis menjadi salah satu reprensetasi orientalis Barat yang memandang Islam
(agama Timur) dengan asumsi-asumsi dasar dan kerangka berfikir yang digunakan
orang Barat yang hingga batas-batas tertentu berbeda dengan pemikiran dan
realitas yang ada di dunia Timur. Demikian pula yang dilakukan R.B Serjeant
(orang Timur) terhadap Patricia Crone (orientalis), Serjeant mengatakan bahwa Crone
telah meneliti Islam dan orang Islam tanpa membekali dirinya dengan pengetahuan
memadahi tentang Islam. Pengetahuannya tentang Bahasa Arab, tegas Serjeant
tidak cukup dalam memahami teks-teks Arab yang menggambarkan tentang Islam dan
umat Islam. Akibatnya pandangan-pandangannya tentang Islam dan umat Islam
sangat tidak mendasar dan tidak akurat (baseless and inaccurate). [10]
4.
Posisi Insider dan Outsider
Berbicara
mengenai posisi insider dan outsider maka yang timbul adalah pertayaan mengenai
siapa yang otentik dalam meneliti studi Islam, dari hal penulis akan memaparkan
beberapa prespektif diantaranya menurut Muhammad Abdul Rauf yang secara tegas
menyatakan bahwa berdasarkan data sejarah, agak susah bahkan tidak mungkin bagi
seseorang yang menganut agama tertentu kemudian mencoba mengkaji agama
lain atau outsider. Karena itu patut
dipertanyakan keabsahan para sarjana Barat dalam mengkaji Islam secara objektif.
Sebagaimana yang diungkapkan Wilred Cantwell Smith, ia mengakui bahwa
interpretasi umat Islam lah yang dipandang otoritatif. Ia menyatakan “apapun
yang yang saya katakana tentang Islam sebagai keyakinan yang hidup di
tengah-tengah masyarakat adalah valid sejauh umat Islam sendiri setuju dan
mengamininya terhadap pemahaman tersebut. Kajian para outsider tentang Islam
harus dicek dan dikontrol oleh umat Islam untuk menghindari peyalahgunaan
kegiatan akademik untuk melawan Islam.
Lain
halnya dengan Fazlur Rahman yang menganggap bahwa hasil penelitian dari
sejumlah sarjanan Barat yang non Muslim menunjukan keakuratan penelitiannya.
Sebaliknya penelitian yang dilakukan sejumlah sarjana muslim sendiri yang
justru menanyakan hasil sebernarnya yang dilakukan oleh umat Islam sebelumnya.
Rahman menegaskan bahwa studi Islam lebih cocok dilakukan kajian pada level
pemahaman intelektual atau apresiasi. Karena hal ini dapat dilakukan oleh
Muslim a dan non Muslim dengan maksud saling belajar. [11]
Sebagaimana Fazlur Rahman, Kim Knott
menyatakan bahwa pengalaman keagamaan yang ada dalam diri insider ditampilkan kemudian
direspon oleh outsider, dengan mempertimbangkan batas-batas objektivitas dan
subjektivitas yang terpancar dalam pengalaman keagamaan, yang didasari oleh
sikap empati dan analisis kritis. Pada titik ini insider dan outsider saling
berbagi keseimbangan prespektif dalam sejarah studi agama.
Berbeda
dengan Knott, Charles S. Pierce mengajukan kontruksi pemikiran sebagai basis
studi Islam, pertama, belief yang berupa tatanan sosial yang dipegang
secara absolute dan dipadu oleh tatanan kekuatan moral. Kedua, babit of mind,
tradisi yang turun temurun dan telah mengkristal menjadi kebiasaan dalam
berbagai aspek kehidupan. Ketiga, doubt mempertanyakan tentang apa yang
selama ini dianggap menjadi mainstream pemikiran dan pengejawantahan. Dan untuk
memperoleh keyakinannya seorang peneliti harus melakukan empat tahapan
pertimbangan guna mengurai doubt menjadi potensi positif argumentatif yakni
tenasitas, otoritas, apriori, dan investigasi. Keempat, inquiry
(penelitian), namun ia menegaskan yang dicari adalah meaning (nilai) bukan
truth (kebenaran) yang merupakan teori pemaknaan pragmatis namun operatif.
Kelima, the logic of theory sebagai landasan aplikasi kajian. [12]
Pada
dasarnya prespektif di atas harus mengetahui penggunaan istilah penelitian
agama dan penelitian keagamaan. Menurut Middleton, penelitian agama berbeda
dengan penelitian keagamaan, penelitian agama
adalah agama sebagai doktrin sementara penelitian keaagamaan adalah
agama sebagai gejala sosial.[13]
Dengan demikian, penelitian dalam studi agama memungkinkan dilakukan oleh
muslim atau non muslim dengan kesepakatan saling belajar, syarat utama untuk
pemahaman semacam ini adalah subjek yang meneliti tanpa permusuhan atau
prasangka terhadap objek kajiannya melainkan harus terbuka, dan jika mungkin
simpati. Selain itu juga harus jujur dengan mengakui kategori-kategori dapat
terus berkembang. Sebagian orang ingin mengonstruksi realitas tapi tidak dapat
mengakui ketidakcakapan itu. [14]
5.
Solusi terhadap Problematika Insider dan Outsider
Dari
berbagai prespektif di atas pada akhirnya muncul tawaran mengenai solusi
terhadap problem insider/outsider dalam studi Islam ada beberapa tawaran solusi
pertama dari Russelt T. McCulcheon dalam
karyanya The Insider/Outsider Problem in the Study of Religion; A Reader.
Dalam karya ini disebutkan bahwa untuk menekan terjadinya bias karena
insider/outsider maka kemudian lahir satu bidang ilmu yang dikenal dengan phenomenology,melalui
ilmu ini seorang peneliti mencoba menggambarkan (to describe),
menginterpretasikan (to interprete) dan menjelaskan (to ekplan) fenomena
yang ada. ketiga hal tersebut akan berjalan dengan baik dengan syarat seorang
peneliti harus mencoba untuk memasuki dan merasakan pengalaman-pengalaman dan
makna-makna yang dimiliki pihak lain, mengakses momen-momen pribadi dari
persepsi manusia yang dengan akhirnya dapat menjebatani jarak antara subjek dan
objek. Hal ini didasarkan pada satu asumsi dasar bahwa semua manusia berbagi
pengalaman-pengalaman yang sama dan karenanya seorang peneliti dapat menjebatani
jarak anatara insider dan outsider dengan cara menjeneralisir pengalaman-pengalaman
pribadinya dan kemudian diterapkan pada pengalama-pengalaman orang lain. Dalam
bahasa Charles J. Adam, fenomenologi merupakan satu pendekatan selakigus metode
untuk memahami agama orang lain yang membutuhkan upaya keras pada diri peneliti
untuk sementara mengesampingkan atau menetralkan diri dari kecendrungan dan
komitmen dirinya menuju usaha untuk merekontruksikan pengalaman keagamaan orang
lain.[15]
Sementara
itu Kim Knott menawarkan pendekatan rappochment dalam menuju
objektivitas metodologis studi Islam. Pendekatan rappochment merupakan
upaya solutif intersubjektif guna memosisikan penelitian pada margin of appreciation
sebagai tapal batas (border line) antara insider dan outsider. Dalam pendekatan
tersebut tidak ada dituntutan untuk meleburkan diri dalam dua pribadi yang
berbeda, namun dari keduanya masih dimungkinkan untuk dicari titik temu meski
kecil. Sebagaimana dalam bagan berikut ini:
Subjective
|
Objektive
|
Intersubjektive
|
The Word of
faith
|
The Word of
scholarship
|
The word of
rapprochement
|
Belief
|
Impartialitas
(clarification)
|
Dialogic of
ideas
|
Fideist/theistic
|
Objektive
rationality
|
Reflexity
|
Emic/ Insider
|
Etic /
outsider
|
Circular
|
Tawaran
yang Knott yang diadobsi dari Richard J. Bernstein dengan menempatkan tiga unsur di atas
dimaksudkan sebagai tautan reflektif sirkuler yang saling mengisi, dan bukan
merupakan eksistensi yang berdiri sendiri, apalagi sebagai subordinat. Spirit
yang diinginkan yaitu adanya titik temu bukan pembauran apalagi peleburan antar
ajaran agama.[16]
C.
Penutup
Kesimpulan
Dari
pemaparan di atas dapat penulis simpulkan bahwa problem yang terjadi dalam
insider atau outsider berawal dari sikap peneliti yang belum dapat membuang jauh-jauh idenya
yang berbeda dengan keyataan yang ada, sehingga objektifitas penelitian masih
perlu diuji. Hal ini disebabkan oleh banyak hal salah satunya bahasa. Sementara
posisi insider dan outsider dalam keontetikan dapat diketahui apabila peneliti dapat
mewujudkan sikap saling belajar, jujur, dan terbuka bahkan simpati.
Problematika insider dan outsider dapat penelitian dapat diminimalisir
dengan pendekatan fenomenologi yang ditawarkan Russelt T. McCulcheon dan
Pendekatan rappochment yang
ditawarkan Kim Knott.
Dari
semua itu perlu di sadari bahwa problem yang terjadi diantara insider dan
outsider telah memberi sumbangan berupa
pendekatan-pendekatan studi Islam sehingga Islam dapat dipahami secara lebih
komprehensif daripada masa-masa lampau, selain itu juga mendorong tokoh- tokoh
muslim untuk lebih bersikap kritis, dan bahkan melahirkan pemikir muslim yang
mampu memberikan sumbangsi keilmuananya di bidang studi Islam salah satu contoh
M. Amin Abdullah yang terkenal dengan integrasi-intrerkoneksi nya dan lain
sebagainya.
Daftar
Isi
Abdullah, Amin. Editor Richard C. Martin. Pendekatan Terhadap Islam dalam Studi
Agama. Yogyakarta: Suka Press. 2010.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,. Studi Agama: Normativitas atau
Historisitas?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002.
Arfan muammar, M., Abdul Wahid
Hasan, dkk. Studi Islam Prespektif Insider/Outsider Yogyakarta: IRCiSoD.
2012.
Ali, Sayuthi. Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan, Teori,
dan Praktik. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2002.
Muhaimin,
dkk. Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan. Jakarta:Kencana. 2012.
Minhaji,Akh. Sejarah
Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi. Yogyakarta:
SUKA Press. 2013
Mengutip dari Mohammad Muslih tentang Religious Studies Problem
Hubungan Islam dan Kristen (Kajian atas Pemikiran Karel A. Steenbrink). Yogyakarta: Belukar
Budaya. 2003.
Mudzhar.M. Athok. Pendekatan
Studi Islam dalam Teori dan Praktek .Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011.
Husni, Munawir. Persoalan Insider dan Outsider dalam Studi
Islam Abdul Rauf dalam http://multikultu.blogspot.co.id/2014/04/persoalan-insider-dan-outsider-dalam.html. Diakses tanggal
28 november 2015.
[1] Amin Abdullah,
Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2002), hlm. v.
[2] Muhaimin dkk, Studi
Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan (Jakarta:Kencana,2012), hlm. 1.
[3] Akh. Minhaji, Sejarah
Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi (Yogyakarta:
SUKA Press, 2013), hlm. 112.
[4] M. Arfan
muammar, Abdul Wahid Hasan dkk, Studi Islam Prespektif Insider/Outsider
(Yogyakarta: IRCiSoD,2012), hlm.130
[5] M. Arfan
muammar, Abdul Wahid Hasan dkk, Studi Islam Prespektif Insider/Outsider,
hlm.108.
[6]Munawir Husni, Persoalan
Insider dan Outsider dalam Studi Islam Abdul Rauf dalam http://multikultu.blogspot.co.id/2014/04/persoalan-insider-dan-outsider-dalam.html. Diakses tanggal 28
november 2015.
[7] Karel A.
Steenbrink, seorang sarjana Perbandingan
Agama berkebangsaan Belanda ia merupakan salah satu pemikir Barat yang kritis terhadap tradisinya
sendiri, ia juga banyak menulis tentang orientalisme.
[8] Mengutip dari
Mohammad Muslih tentang Religious Studies Problem Hubungan Islam dan Kristen
(Kajian atas Pemikiran Karel A.
Steenbrink), (Yogyakarta:
Belukar Budaya, 2003), hlm. 19-20.
[9] Sayuthi Ali, Metodologi
Penelitian Agama: Pendekatan, Teori, dan Praktik (Jakarta: Raja Grafindo
Persada,2002) hlm. 4.
[10] Akh. Minhaji, Sejarah
Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi (Yogyakarta:
SUKA Press, 2013), hlm. 120.
[11] Akh. Minhaji, Sejarah
Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi, hlm.
122-123.
[12] M. Arfan
muammar, Abdul Wahid Hasan dkk, Studi Islam Prespektif Insider/Outsider
(Yogyakarta: IRCiSoD,2012), hlm.109-110.
[13]M. Athok
Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2011)hlm.35.
[14] Amin Abdullah,
editor Richard C. Martin, Pendekatan Terhadap Islam dalam Studi Agama
(Yogyakarta: Suka Press, 2010)hlm. 205.
[15] Akh. Minhaji, Sejarah
Sosial dalam Studi Islam: Teori, Metodologi, dan Implementasi (Yogyakarta:
SUKA Press, 2013), hlm. 124-125.
[16] M. Arfan
muammar, Abdul Wahid Hasan dkk, Studi Islam Prespektif Insider/Outsider
(Yogyakarta: IRCiSoD,2012), hlm.128-129.
0 komentar:
Posting Komentar